Friday, December 9, 2016

Aku Ingin Mati Dibawah Aurora

Sebelum membacanya, aku hanya ingin memberitahumu. jangan berprasangka padaku. Aku memang orang yang aneh. ‘Orang yang berbeda’ atau ‘orang yang unik’ mungkin kalimat yang terlalu halus, panggil saja aku ‘orang aneh’, aku lebih senang mendengarnya. Sedari dulu aku sering dijauhi oleh orang yang tidak suka padaku. Akhirnya aku menjadi seorang penyendiri.

Dari semenjak kanak-kanak, aku punya impian. Aku ingin mengakhiri hidup dikutub utara atau kutub selatan. Bukan karena aku benci tempat tinggal. Di negeri sejuk ini begitu banyak keajaiban. Tapi aku ingin kesana. Sangat ingin. Untuk melihat aurora. 

Aurora adalah pendaran cahaya yang tercipta di udara karena atom dan molekul yang bertumbukan, terutama elektron dan proton dari angin matahari. Partikel-partikel itu terlempar lebih dari 500 mil/detik dan terhisap medan magnet bumi di sekitar kutub utara dan kutub selatan. Lalu..... jadilah aurora di langit.

Pertama kali aku berjumpa dengannya adalah di buku ensiklopedia. Di komputerku dipenuhi gambar aurora. Aku bisa menatapnya hingga berjam-jam, hanya melongo dan senyum-senyum sendiri. Penuh warna-warni. sangat indah. aku ingin sekali melihatnya secara lansung. Tanpa layar yang membatasi. Dan mungkin, sisa umurku akan kuhabiskan disana saja. Entahlah, sejak kecil aku sudah memikirkan ini dengan matang. Dan hingga sekarang, aku tidak pernah melupakannya sedikitpun. Disaat teman sebangkuku terobsesi pelangi yang diajarkan oleh guruku, aku lebih memilih aurora.

Bagiku, aurora mengajarkanku banyak hal. Aurora adalah simbol keseimbangan. Aurora mengajarkanku merendah, bahwa diantara keindahannya, ia memilih di ujung dunia saja. Aurora titik hubung antara bintang-bintang lain. Kita tidak pernah tahu gerbang apa yang ada disana. Aku mencintai ruang hampa tanpa batas miliknya.

Aurora pacar pertamaku. tanpa mengenal konsep pasangan manusia, aku sudah memilih berpasangan dengan sebuah pendaran sinar. cahaya. kecantikan yang valid dan tak bisa diukur.

Secepatnya kita akan bertemu, aurora borealis. suatu hari nanti.

Thursday, October 6, 2016

Titik.

Aku ingin menulis puisi.
Tetapi aku lelah dianggap puitis.
Puitis menjadikanku dipandang manusia hiperbola.
Bercerita dengan diksi berima seakan hidupku mendayu.
Tetapi... aku hanya ingin berkata hal klise dan mungkin membosankan untuk kalian dengar.
Aku jatuh cinta.

Padanya, wanita yang bahkan tak bisa kujelaskan mengapa.
Sosok perempuan yang paham seperti apa aku ini.
Laki-laki penuh ego layaknya api sepertiku selalu padam didekatnya.
Seperti air, dia mengalir.


Mungkin yang dia tidak tahu, aku diam-diam menjulukinya lentera.
Nyala terang saat gelap.

Dia adalah masa laluku.
Yang aku harap terus menjadi masa depanku.
Ya, semua kehendak tuhan sih perjalanan cinta akan berakhir dengan siapa.
Tapi andai aku bisa request, dia saja ya sampai aku mati.
Dan tua bersama. sampai aku bisa melihat rambutnya yang putih nanti.
Lalu tertawa bersama.

Tak ada lagi tanda kutip (“) untuk mengumpamakan apapun. Sudah terlalu banyak koma (,) yang kulalui. kau adalah jawaban dari tanda tanya (?) yang beribu. Keterangan dari tanda seru (!) yang menghentakku dalam-dalam.

Kau adalah titik-ku.
Akhir dari semua kalimat.
Akhir dari semua paragraf.
Akhir dari sebuah cerita.

Wednesday, August 10, 2016

Cinderella Dan Sepasang Sendal Jepit

Untukmu yang pemilih. Diantara kegelisahanmu, ada yang sedang menghawatirkanmu. Kesepianmu, bukan ladang tangisan dan ratapan, karena kamu sendiri yang memilihnya. Bagiku pendamping hati bukan untuk sebuah kesempurnaan. Diantara perhatianmu, ada titik yang luput. Ada hati lain memata-matai. Anggap saja ini adalah penanda sekaligus pengingat. Ada manusia ‘biasa saja’ yang mengagumimu. Dia sudah sekian lama memperhatikan tingkah lucu pada dirimu itu. Tapi, mata bersinar milikmu tidak menatap kembali, hanya karena kamu mencari seseorang yang diluar ekspektasimu sendiri.

Untukmu yang pemilih. Entah apa yang membuatku mengingat kisah Cinderella. Dongeng tentang wanita cantik yang saling cinta dengan pangeran kerajaan. Semua bermula dari sepatu kaca yang ditinggalkan Cinderella saat pesta pada sebuah tengah malam. Ah, dongeng Cinderella itu tidak cocok untukku. Di akhir kisahnya, mereka bahagia sepanjang hidupnya. Terlalu sempurna. Dan tidak semua orang akan bisa seperti Cinderella. Satu diantara sekian miliyar wanita beruntung.

Untukmu yang pemilih. Kamu itu seperti Cinderella. Tak bersyukur dengan dirimu. Tak usah terlampau repot meminta sepasang sepatu kaca dari peri. Pakai saja sandal jepit usangmu ke pesta kerajaan. Bukan apa-apa, siapa tahu bisa saja pangeran kerajaan itu lebih menyukai sendal jepit ketimbang sepatu kaca. Akan ada banyak pangeran yang mencintaimu apa adanya, tapi sayang, kau melewatkannya. Tepat didepan mata mengagumkanmu itu.

Untukmu yang pemilih. Tidak semua pangeran menyukai wanita bersepatu kaca dan bergaun indah. Temukanlah pangeran yang mencintai wanita apa adanya. Karena ungkapan cinta itu buta amat benar adanya. Mungkin kaos oblong dan sendal jepit jadi salah satu kriterianya. Tapi hanya saja kamu terlalu sibuk memusingkan diri untuk melampaui batas kemampuanmu sendiri.

Untukmu yang pemilih. Saya sendiri bukan pangeran. Saya hanya rakyat biasa berkaos oblong dan bersendal jepit. Dan sayangnya saya ingin bersamamu. Tapi lihatlah dirimu, kamu menghabiskan detikmu mengejar pangeran itu.

Untukmu yang pemilih. Salam dariku, seorang rakyat biasa.

Untukmu yang pemilih. Mulailah berdamai dengan diri sendiri.

Untukmu yang pemilih. Jika memang pangeran adalah kriteriamu, temukan pangeran yang tulus padamu.



Friday, July 29, 2016

Kelaparan Karya Tapi Gengsi

Tulisan ini teruntuk banyak orang yang mungkin belum mengerti dan sadar bahwa kreatifitas itu punya harga. Banyak diantara kita belum bisa rela mengeluarkan beberapa peser rupiah untuk membeli kreatifitas. mungkin saja belum ada yang memberi tahu. Nah, mungkin ini kesempatan saya sedikit memberikan pemahaman (cieeeeelah pret).

Kita sebagai manusia pasti butuh makan. Makan adalah kebutuhan utama. Jika tidak makan kita akan mati. Maka dari itu kita akan membeli makanan untuk membuat kita kenyang dan punya energi. Harga beras sering naik, melonjak tinggi, tapi apa boleh buat, kita akan terus membeli beras, semahal apapun. Kita akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan perut. Ini kebutuhan yang sangat wajib.

Nah, saya yakin diantara kalian yang membaca ini, kalian mungkin punya tv di rumah kalian. Kalian membelinya karena membutuhkan hiburan (selain informasi). Kalian yang membaca ini pasti punya laptop/komputer atau paling tidak gadget berbentuk handphone untuk membaca blog ini. Selain untuk informasi dan komunikasi, di gadget kalian pasti mencari hiburannya. Sekarang, saya cukup yakin, manusia di negeri ini butuh hiburan. Hiburan sudah nyaris menjadi kebutuhan utama di 2.0 era. Hiburan sudah seperti nasi. Manusia banyak yang “lapar” kreatifitas tapi tidak mengakui.

Tapi sayangnya banyak diantara kita yang tidak menghargai kreatifitas di medium-medium lain, seperti hal nya buku, musik, pertunjukan seni, design visual dan lain-lain. Untuk kalian yang punya buku, pasti ada saja teman kalian yang ingin meminjam buku kalian. Dia terlihat ingin sekali membacanya. Padahal buku tersebut banyak dijual di toko buku di mall, tapi dia tidak mau membeli. Bukannya saya pelit tidak mau meminjamkan, saya malah sering meminjamkan buku saya ke orang lain dan tidak jadi masalah. Tapi saya kasihan dengan orang-orang yang suka baca ini tapi tidak mau beli buku.

Padahal untuk sekedar mengeluarkan uang untuk membeli buku tidak seberapa dibandingkan dengan dia membeli fashion item yang dia suka, kuota internet, nongkrong di coffeshop, dan lain-lain. Suka baca, tapi tidak punya buku. Ini aneh untuk saya.

Bukan cuma di buku, kita semua pasti pernah (saya juga) download lagu bajakan di google. Mungkin hanya segelintir yang tidak pernah. Tapi sayangnya banyak diantara kita yang tidak mengerti kalo yang dia lakukan itu salah. Download lagu bajakan di internet bukan berarti kau ‘kriminal’, hanya saja tidak ada yang memberi tahu kalo itu salah.

Salah satunya juga terjadi di pertunjukan/show musik, pementasan teater, malam puisi, dan sebagainya. Banyak yang tidak mau datang untuk menonton pertunjukan hanya karena show itu berbayar. Padahal mereka mengagumi senimannya.

Ini juga terjadi di bisnis design grafis. Banyak orang yang menjual design nya dengan harga murah. Bahkan banyak yang (kurang ajar) meminta gratisan. Kasihan.

Kesenian dalam banyak bentuk itu tidak mudah untuk dibuat. Dibutuhkan perjuangan. Seperti nasi, dia memulai dari bibit padi yang ditanam.
Jadi sebernarnya selama ini kita tidak sadar.
Kita butuh hiburan seperti layaknya makanan.
Karya-karya itu seperti nasi.
Dan sekarang… jika kita sudah mulai sadar kalau kita lapar akan kreatifitas itu,
Harusnya kita mulai menyisihkan sepeser rupiah untuk itu…
seperti makanan.

Tuesday, July 19, 2016

Aku Jatuh Hati Pada Tumpukan Besi Yang Bergerak Karena Manusia Memilih Pandai Berpura-pura

Menjalin kasih sekarang terasa palsu. Jatuh cinta pun rasanya tidak lagi istimewa. Pemuda-pemudi mengikat kasih bukan karena cinta lagi— walaupun mereka menyebutnya demikian —tapi karena pilihan. Sangat banyak saya melihat sepasang kekasih di tempat-tempat indah tapi tak saling bersama. Hanya tubuhnya saja yang beberapa jengkal. Sayangnya ‘mereka’ tidak ada disana. Mengabadikan saat-saat berdua dan melemparnya ke publik, hanya sekedar menggugurkan stigma sosial media dan manusia lain jikalau tak punya kekasih adalah aib di sabtu malam. Sesekali berangkatlah ketempat muda-mudi ini sering bertemu, kau akan memandang betapa sedihnya cangkir-cangkir soda restoran cepat saji itu.


Apa saya yang terlalu kolot? Apa saya yang ketinggalan jaman dengan perkembangan cara mencintai kalian sekarang? Cobalah sedikit jelaskan arti pelukanmu saat engkau pamit pulang dari tempat tinggalnya? Cobalah uraikan apa makna ciuman yang kau rasakan terakhir kali dengannya? Jika kau tak bisa menjelaskan dan berdalih beribu alasan, artinya memang pendakian malam minggu kalian kosong saja.

Saya lelah jatuh cinta dengan manusia. Mungkin saya akan menjalin kasih dengan robot di lain hari. Ya, dengan tumpukan besi dingin yang bergerak itu. Apa salahnya? Robot diprogram untuk menjadi yang saya ingin. Ini bukan hal yang tak masuk akal bukan? Karena suatu saat nanti, kalian akan menyadari bahwa manusia sekarang tak lagi bersifat seperti manusia. Saya tak menemukan cinta lagi pada banyak manusia-manusia. Mereka buta dalam lingkup perasaannya sendiri. Mereka terhanyut dalam kebutaan resiko saling memiliki satu sama lain, seperti seekor kucing yang terbawa arus sungai. 

Menjalin kasih dengan robot mungkin akan lebih menyenangkan. Robot yang di atur sedemikian rupa, akan dengan nyaris meng-amin-kan segala apa yang engkau inginkan. Tapi, apa kau tahu apa yang tak bisa kau capai saat mencintai setumpuk besi yang hidup itu? Kau tidak akan mengenal lagi sisi melankolia yang manusia miliki. Perasaan adalah hal yang tak dimiliki tumpukan besi hidup itu. Tapi sayangnya, sekarang manusia tak menggunakan ‘hati’ lagi bukan? Lalu, apa bedanya kalian dengan tumpukan besi itu? Bukan kepalsuan itu yang kalian ingin capai kan? 

Hai remaja-remaja yang merasa di mabuk asmara. Mabuk yang kau rasakan itu hanya pura-pura. Sekarang saya berfikir kalian suka mendustai diri. Melewatkan ratusan bahkan ribuan kemungkinan yang menyenangkan tanpa jadi orang lain untuk dicintai olehnya, kekasihmu. 

luthfi ramadhan, 19 juli 2016, makassar.

http://lutfiramadan.blogspot.co.id/

Sunday, June 26, 2016

Orang Gila

Nah, saat ini saya ingin menulis sesuatu yang sudah sejak lama ingin saya tulis, tapi tertunda karena kemalasan. Mungkin tulisan ini agak aneh, tapi saya cuma ingin menyampaikan hal yang menjadi perhatian saya.

Kalian tahu kan ‘orang gila’? dalam pengertian yang lebih medis, orang gila adalah orang yang mengalami ‘gangguan kejiwaan’ atau saraf yang parah. Karena kata ‘gila’ biasanya digunakan untuk seseorang yang berprilaku sangat aneh dan melewati batas ke-normalan-nya sendiri.

Entahlah, sejak kecil, mereka selalu menjadi perhatian saya. saya selalu penasaran dengan mereka. Cukup sering saya melihat mereka ditempat umum sampai berjam-jam dan tidak pernah
merasa bosan. Sampai pada saat, saya ada di titik dimana saya mengambil kesimpulan bahwa, orang gila adalah manusia normal yang sebenarnya.

Menurut saya, orang gila itu proyeksi manusia sempurna.

Orang gila tidak pernah pusing kenapa mereka gila. Mereka tidak pernah mengeluh kenapa mereka berbeda dengan orang lain. Mereka tidak pernah merasa yang mereka alami adalah ‘gangguan kejiwaan’. Sedangkan orang normal, lebih banyak mengurusi orang lain. Memusingkan urusan yang sebenarnya bukan urusan mereka. Manusia normal lebih banyak mencemooh orang lain, memperbanyak musuh, lalu memulai perseteruan.

Orang gila juga mempunyai imajinasi yang tinggi. Menurut penelitian (kajian ilmiah yang berbasis di Stockholm, Swedia, Karolinka Institute) kemampuan kreatifitas orang gila & orang jenius itu beda tipis. Lalu, kalau misalnya mereka saja punya kemampuan itu, kenapa masih banyak orang normal yang merasa tidak punya rasa percaya diri untuk membuat karya. Masih banyak orang yang mengubur mimpinya karena merasa dirinya tidak punya bakat?

Orang gila juga tidak peduli penampilannya. Sedangkan manusia normal, kita lebih mementingkan apa yang diluar dari pada yang didalam. Kita lebih peduli citra kita dihadapan orang lain, dari pada memilih untuk melalui proses memperbaiki diri.

Ya, jika punya kesempatan, saya sangat ini belajar banyak lagi dari mereka.
Dadah.

Wednesday, May 11, 2016

Selamat, Kamu Yang Menang.

Ingatanku mengawang, waktu itu, di malam sebelum pertunjukan dimulai, di sebuah perkemahan, saya jatuh cinta pada seorang wanita sederhana. Singkatnya... aku tak menyangka, hati kita bisa bertemu. Aku memilihmu, dan kau memilihku saat itu.


Selang beberapa lama, kamu memutuskan hubungan kita. alasannya karena ke-brengsek-an ku saat itu. lelaki tolol ini (saya) selingkuh. aku memang bukan tipe lelaki yang kuat ldr. aku memang pantas mendapatkannya. tapi kehilangan tetaplah kehilangan, aku mulai terlarut dalam banyak tumpahan air mata sendiri. Tak lama, aku menemukan nama orang lain terpampang di sosial mediamu, katamu kau mencintainya. aku kembali mengutuk diriku. Aku sangat ingin membunuhnya saat itu, tapi itu hanya sebatas niat, karena aku tidak mau dipenjara karena cinta, kampungan pfft.

Selama bertahun-tahun aku mengemis untuk kembali padamu. tapi kamu tak berpindah hati sedikitpun. aku seperti tak punya harga diri. kamu mem-blokir semua sosial media milikku. aku seperti nitizen hina bagimu. aku kagum atas pendirianmu. tapi apa daya ini... aku tetap cinta. perempuan sepertimu cukup hebat untuk membuat lelaki dingin sepertiku jatuh cinta beribu-ribu kali.

Ditolak...Diacuhkan...Kumakan setiap hari...

Dan, aku fikir, aku harus mengubur niatku. aku harus melanjutkan mimpiku sendiri. memulai kertas putih polos baru untuk kutulis dan kubuat cerita sendiri bersama wanita lain. Sekarang aku dekat dengan seorang perempuan manis. nampaknya aku cocok dengannya. dan sikapnya padaku juga membuatku yakin kalau dia juga nyaman.

Tapi...sekarang...kau kembali muncul.
Lucu juga ya, 4 tahun kita saling kenal, dan baru 4 kali juga kita bertemu. setahun sekali.

Awalnya aku mengira, kau datang untuk menunjukkan bahwa kau sudah berdamai dengan masa lalu (kita yang hancur itu). tapi sikapmu terlihat aneh. dihari berikutnya kita bertemu, dan kau memberitahuku semuanya. bahwa kau mau kembali kepadaku. dan aku baru tahu kau punya masalah dengan kekasihmu, dan.... itu karena aku. dia cemburu.

Aku juga bilang kepadamu... "aku juga masih mau kembali.."
Tapi sekarang aku bersama orang lain.
Tapi kau sekarang punya masalah besar dengan lelaki lain.
Tapi aku masih sama brengsek-nya dengan yang dulu.
Tapi aku bajingan jika menggaggumu dengannya sekarang.
Dan masih banyak kata "tapi" yang harus kupertimbangkan.

Kita tidak bisa bersama lagi.

Jika ini sebuah permainan, kau adalah pemenangnya.
Dulu aku mencintaimu, dan kau meninggalkanku. Ya kau menang.
Sekarang kau muncul, dan memintaku kembali disaat aku dekat dengan orang lain. dan kau berhasil membuatku bingung. Ya kau menang lagi.
Tapi menurutku kita tidak bisa kembali. tapi kau tetap menang.
karena kau berhak mendapatkan lelaki yang lebih perhatian, mengerti kamu, sholeh, tampan dan kaya dibanding aku.
Dan diakhir kata-kata ini, aku hanya mau mengucapkan selamat.
Selamat ! kamu memenangkan permainan ini.
Hadiahnya? kau berhak berdamai dengan masa lalu.
Take care ya.
http://lutfiramadan.blogspot.co.id/

Nasihat

Ini aneh, tapi baiklah. Halo nak, ini ayah. Ayah tak tahu kamu lelaki atau wanita, yang jelas, jikalau nanti kau sudah dewasa, dan mene...